October 11, 2010

Just Do It

Cerita ini diambil dari buku The Best Damn Sales Book Ever (dapat di tumpukan buku diskon Rp.10.000,- di gramedia)

Ini adalah kisah mengenai seorang lelaki yg memiliki komitmen, hasrat, dan kegigihan luar biasa – dan ia beruntung karena tidak memiliki hal yg lain. Tanpa pekerjaan, tanpa uang, dan memiliki keluarga yg harus dihidupi, apa yg dia inginkan adalah bekerja, pekerjaan apapun. setiap hari mencari dan terus mencari namun tidak ada pekerjaan yg ia dapat.

sebagai harapan terakhir ia menemui seorang pemuka agama dan meminta tolong agar dicarikan pekerjaan.

sang pemuka agama melihat ke arah lelaki itu, lalu berkata “ saya senang anda datang kemari, teman baik saya adalah presiden New York University (NYU), saya akan berikan anda surat rekomendasi, temuilah dia, saya yakin dia bisa membantu anda mendapatkan pekerjaan”.

Lelaki tadi merasakan senang dan semangat luar biasa dalam hatinya. ia segera pergi menemui presiden NYU itu dengan surat rekomendasi di tangannya. saat bertemu presiden NYU dia menceritakan semua kesulitannya, kehilangan pekerjaan, tanpa uang, dan keluarga yg harus dihidupi,lalu berkata pada sang presiden “ saya bersedia melakukan pekerjaan apapun, dapatkah anda menolong saya?”

Presiden tersebut melihat surat rekomendasi itu kemudian memandangi lelaki tersebut, “ saya senang anda datang, saya rasa anda bisa bekerja disini sebagai kepala pesuruh NYU” kata sang presiden. lelaki tadi girang bukan main, ia berkata “ itu adalah hal yg hebat. dapatkah saya mulai bekerja sekarang?”, presiden menjawab “tentu saja, namun anda perlu mengisi surat lamaran kerja ini terlebih dahulu, hanya untuk formalitas saja.”

Mendengar hal itu, wajah lelaki tadi mendadak pucat pasi, ia sedikit tertunduk dan berkata ”maaf saya tidak bisa; Anda tahu, saya tidak bisa membaca ataupun menulis.”

Sang presiden menatap pria tersebut dan berkata “ kita mendapatkan masalah. Anda harus mengerti bahwa saya adalah presiden dari sebuah universitas yg besar. bagaimana mungkin saya merekrut seseorang yg tidak dapat membaca ataupun menulis. saya mohon maaf yg sebesar-besarnya, nampaknya saya tidak bisa membantu anda”

lelaki tersebut merasa hancur sekarang, ia lalu berpamitan pada sang presiden. Saat melangkahkan kaki keluar ruangan, sang presiden berkata “Tunggu dulu! saya tidak suka melihat anda pergi dengan tangan kosong; kemari, ambillah ini”, ia lalu memberikan lelaki itu sekotak cerutu.

“terima kasih tuan, namun saya mohon maaf, saya tidak memerlukannya, saya tidak merokok” jawab lelaki itu. sang presiden langsung menyambungnya “ambillah, saya akan merasa senang kalau anda tidak pergi dengan tangan kosong. Cerutu ini masih baru dan terbungkus rapi.”

lelaki tersebut mengambilnya dan segera pergi. ia menyusuri jalanan kota tanpa tahu ingin kemana. ia pun sampai di tengah kota, daerah bisnis keuangan, dengan sekotak cerutu di tangannya. di sudut jalan ia melihat sebuah toko cerutu, dan mendapatkan ide untuk menjual cerutu miliknya ke toko itu.” setidaknya aku akan mendapatkan beberapa dolar” katanya pada diri sendiri.

Ia bergegas menemui sang pemilik toko, menceritakan kisahnya, dan mohon agar pemilik toko tersebut membeli cerutu miliknya. “ Saya sangat ingin membantu anda, tapi saya mohon anda dapat mengerti bahwa saya adalah pemilik toko dengan reputasi baik selama 20 tahun. Apa yg akan dikatakan pelanggan saya bila mereka tahu bahwa saya mulai membeli cerutu dari jalanan? saya sangat menyesal tidak dapat membantu anda”

lelaki tadi terdiam mendengar kalimat pemilik toko itu. “tapi tunggu dulu” lanjut sang pemilik toko, “ mungkin anda bisa menjual cerutu itu di sekitar sini, banyak orang berjalan dengan uang di kantongya. buatlah semacam papan pengumuman. anda bisa menjualnya seharga 1$ untuk tiap batangnya.”

“menurut anda apa saya bisa melakukannya?” tanya lelaki itu. “ tentu saja anda bisa mencobanya” kata pemilik toko .

pemilik toko itu lalu membuatkannya sebuah papan pengumuman.

lelaki tersebut sangat senang, setidaknya dia punya sesuatu untuk diusahakan, meski belum tahu apakah akan berhasil atau tidak. ia pun berkeliling beberapa blok. dan dalam 2 jam semua cerutunya sudah habis terjual. “waw ini hebat” pikirnya, “aku akan kembali ke toko tadi dan membeli 2 kotak lagi”.

Lelaki itu kembali ke toko tadi dan membeli 2 kotak cerutu dan menjualnya di tepi jalan yang ramai tidak jauh dari toko tersebut. ia terus menjual cerutu di sana sampai 5 tahun kemudian, sampai akhirnya dia berniat untuk membeli toko cerutu tadi. Ia mendatangi pemilik toko cerutu dan mengutarakan maksudnya.

“boleh saja, lagipula saya sudah 25 tahun di bisnis ini, sudah saatnya saya pensiun” kata sang pemilik toko. lelaki itu bertanya “lalu, berapa harga yang anda minta untuk toko ini?”. “saya ingin satu juta dollar” jawab pemilik toko. lelaki tadi diam sejenak, lalu berkata “menurut anda dimana saya bisa mendapatkan uang satu juta dollar?”. sang pemilik toko menjawab “ enatahlah, tapi anda bisa mencoba bertanya khan?”.

Lelaki tadi kemudian menemui seorang bankir dan menceritakan semua usahanya selama lima tahun terakhir, dan mengutarakan ingin mengajukan pinjaman satu juta dollar dari bank itu. “apa anda punya agunan?” kata sang bankir. “Apa? agunan--------apa itu? anda tahu,saya tidak bisa membaca dan menulis, saya benar2 tidak tahu apa itu agunan” jawab lelaki itu. si bankir yg merasa kesal kembali bertanya-dengan nada menjengkelkan “apa anda punya uang?”.

Lelaki itu merasa jengkel dengan nada bicara sang bankir,lalu menjawab dengan nada agak marah “saya punya tabungan, dan saya selalu menabung di bank ini”, ia merogoh tas kecilnya dan melemparkan buku tabungan ke meja bankir, dan berkata “ini bukunya, saya tidak tahu berapa jumlahnya”. si bankir tadi membuka buku tabungan itu dan terkejut, lalu berkata

“ Tuan, tabungan anda 476.000$” (mendadak ia memanggil lelaki tadi dengan kata Tuan). “EMPAT RATUS TUJUH PULUH ENAM RIBU DOLLAR, dari menjual cerutu di pinggir jalan” ulang si bankir dengan nada terkejut.

“Tuan, anda tidak bisa membaca dan menulis, tapi anda adalah seorang yang jenius dalam keuangan”, bankir tadi melanjutkan “tahu kah anda apa jadinya nasib anda jika bisa membaca dan menulis?”

lelaki tadi menjawab “ ya, saya akan jadi kepala pesuruh di NYU!”

[+/-] Selengkapnya...

October 06, 2010

CS Flexi emang juara

Barusan nelpon CS Telkom Flexi CS : Telkom Flexi selamat malam dengan B_ma ada yang bisa dibantu? ydn : selamat malam pak, saya mau komplain ...bla bla bla CS : Baik pak, maaf dengan bapak siapa saya bicara? ydn : Yadin pak CS : baik dengan Pak Yamin ydn : Yadin pak, bukan Yamin CS : Baik pak Yadin,mohon maaf atas kesalahan nama ydn : OK CS : bisa disebutkan nomor kartu flexi bapak? ydn : 0274 CS : Bandung ya pak ydn : Jogja CS : oh mohon maaf pak, berapa pak nomornya ydn : 0274 xxxxxx CS : saya ulangi ya pak, 0274 xxxxxx ydn : Ya CS : dengan Bapak YAMIN di BANDUNG Yamin : Terserah deh pak.............

[+/-] Selengkapnya...

November 02, 2009

Mencoba Berpikir Positif

susah memang melihat sesuatu secara utuh, bhkan mmg tidak mungkin. pernah melihat suatu benda secara utuh? biasanya kita cm bs liat dr sisi depan,atau belakang,atau samping saja, atau atas, atau bawah, klo cukup beruntung kita bisa lihat semua sisi dengan cermin keliling, tp apa kita bisa melihat semua sisi secara bersamaan? yg melihat kursi dari bawah mgkn tdk prnah melihat kursi itu indah sebelum kursi itu dibalik atau dibaringkan, bahkan jika itu singgasana seorang raja sekalipun. tp jika kursi itu dibalik apa masih bisa menjalankan fungsinya? akhirnya kita harus menyadari tidak semua sisi harus tampak indah,tp tentu semua sisi bisa berfungsi dengan indah. sebagian memang harus mengalah,karena bersikap adil memang bukan keahlian terbaik manusia, kemampuan terbaik manusia adalah berpikir, dan berpikir positif tentu bisa jd penengah yang baik. berpikir positif itu sendiri tidak lebih dari upaya memberikan alasan-alasan yg baik bagi diri sendiri, alasan baik dari berbagai sisi atas apa yang terjadi, atas apa yang dirasakan, atas apa yang ada di hadapan kita. akhirnya alasan-alasan yang baik mengenai sesuatu tetap saja merupakan hal yg bersifat relatif, dan tidak bebas nilai. alasan - alasan yang baik atas apa yang terjadi pada diri kita seringkali harus datang dari pemahaman atas nilai yang berlaku pada sisi yang lain, dan mari kita percaya bahwa tidak akan datang suatu pemahaman kecuali dengan belajar, kecuali dengan belajar.

[+/-] Selengkapnya...

April 15, 2009

TEORI PENULARAN NGANTUK

Bener ga sih ngantuk/nguap itu menular ? Karena bosan mendengar opertanyaan semacam itu, diriku mencoba berteori saja, teori fiksi non ilmiah berlandaskan kebebasan berfikir dan mengemukakan pendapat secara langsung,umum,jujur,adil,dan bebas (halah!)

PERINGATAN KERAS, ini teori tingkat tinggi kawan, serumit konspirasi-konspirasi untuk korupsi, dan meruntuhkan ekonomi, jadi….baca saja dan jangan berpikir, jangan berpikir,anda tidak akan sanggup.wkwkwkwk

Teori Gila #1 :

Pada saat tubuh kekurangan oksigen hingga level tertentu, suatu “senyawa x” dihasilkan oleh tubuh yang kemudian memberikan perintah pada otak agar ‘menguap’, dan saat seseorang menguap (katakanlah si A), “senyawa x” tadi ikut terlepas ke udara, dan terhirup oleh orang yang sedang sial ,katakanlah si B, yang berada di dekat si A, akhirnya “senyawa x” td ikut memerintahkan otak si B untuk menguap (mungkin “senyawa x” sudah mulai dihasilkan di tubuh si B namun jumlahnya belum cukup, dengan terhirupnya “senyawa x” tambahan dari si A, jadilah si B menguap).

(mirip seperti saat tubuh menghasilkan enzim yg memerintahkan pelepasan zat asam lambung saat makanan mulai memasuki daerah tenggorokan, enzim tsb saat diinjeksi ke dalam darah orang yang tidak sedang makan dapat pula menyebabkan terjadinya pelepasan asam lambung seperti layaknya orang yang sedang makan)

Teori Gila #2 :

pada saat si A menguap dengan tidak senonoh, si B merespon tindakan si A sebagai suatu ‘alarm’ bahwa si B sebenarnya juga mulai kekurangan oksigen (sekali lagi, kekurangan oksigennya hampir cukup untuk merangsang otak agar memberi perintah menguap), otak si B merespon tindakan si A dan meneruskannya dengan memberikan sinyal ke tubuh untuk menguap saat si B memang hampir menguap dengan sendirinya,jadi deh si B ikut nguap.Hoahem….jadi ngantuk :)

Hahaha, tapi itu hanya untuk bersenang-senang saja kawan, dan yang paling penting, ini teori orisinil.:)

[+/-] Selengkapnya...

April 13, 2009

INDAHNYA PANTAI, CERMIN BAHAYA-NYA LAUTAN

INDAHNYA PANTAI, CERMIN BAHAYA-NYA LAUTAN

Judul di atas bukan karena saya sedang mencoba berkata-kata mutiara, tapi tulisan itu ada di bagian paling bawah dari stiker kalender pembagian seorang Caleg (yang mungkin sekarang sudah jadi gila karena gagal menjadi legislator), kebetulan stikernya nempel di warung makan langganan,kebaca terus deh. Pertama kali baca tulisan di sticker itu, spontan terlontar kata-kata “ what the……..”

Berkali-kali membaca tulisan itu, saya belum berhasil menangkap makna yang ingin disampaikan si caleg dengan memasang kata-kata itu di stikernya, jd saya putuskan untuk mencoba membaca pikiran si caleg dari sudut pandangnya tanpa melepaskan sudut pandang pribadi (ga ada urusan obyektifitas disini kawan,hehe).

kira-kira begini, karena foto wajah si caleg itu tak seindah pantai- yang berpasir hitam sekalipun, dipasanglah tulisan itu supaya orang ga milih caleg yang cuma good looking, tapi sialnya ga semua masyarakat tau sepak terjang semua caleg, termasuk si caleg stiker kalender itu, bahkan mungkin cuma keluarganya di rumah yang tau, hihihihi, orangnya masih muda,partainya juga baru koq. kalau masyarakat ga tau sepak terjangnya,dan tampangnya juga ga cakep, mending jgn dipilih deh, ntar jadi politisi yang lupa diri malah bikin gondok kuadrat. Udah tampangnya bikin sepet mata, kelakuannya bikin makan hati.

PANTAINYA JELEK, LAUTNYA SAMA BERBAHAYA..…..

[+/-] Selengkapnya...

December 19, 2008

Psychosocial Rock (sebuah cerpen)

Rumah kost yang tepat berhadapan dengan masjid itu tampak suram, kumal tak terbantahkan............Semua cat di dinding yang berupa-rupa warna itu kotor, kotor seperti habis disiram air sungai yang bercampur lumpur. Tak perduli matahari ada 7 buah di langit, aku yakin bangunan itu akan tetap tampak suram.......di depan kamar-kamar itu sudah banyak yang hancur betonnya,mungkin karena sibuk memantulkan air hujan ke dinding-dinding yang seperti menghisap raga itu. Pagi itu aku berjalan melewatinya, seringkali aku memang melemparkan pandangan masuk menyusuri 'lorong' bangunan itu saat melintasinya. Pemandangannya selalu sama kawan, tentang ke-putus asa-an, tidak pernah lebih baik. Ibu-ibu penghuni bangunan itu Rumah kost yang tepat berhadapan dengan masjid itu tampak suram, kumal tak terbantahkan. Bangunan itu adalah bangunan 2 lantai, susunan kamarnya membentuk huruf U dengan jarak antar kamar yang berhadapan tidak lebih dari 3 meter,tanpa teras kawan. Jarak 3 meter itu masih pula ditingkahi sepeda dan motor - beberapa dilengkapi dengan keranjang di kedua sisinya - yang disandarkan sesukanya oleh si pemilik pada dinding kamar masing-masing. Semua cat di dinding yang berupa-rupa warna itu kotor, kotor seperti habis disiram air sungai yang bercampur lumpur. Tak perduli matahari ada 7 buah di langit, aku yakin bangunan itu akan tetap tampak suram. Cahaya matahari hanya punya celah 1 meter untuk masuk ke tengah bangunan itu dan mengeringkan semua pakaian, kadang juga bahan makanan, yang dijemur di depan kamar para penghuninya dengan sembarangan pula. Kalau sedang hujan, makin lusuh lah situasinya. Tak ada talang air di tepi atapnya. Lantai di depan kamar-kamar itu sudah banyak yang hancur betonnya,mungkin karena sibuk memantulkan air hujan ke dinding-dinding yang seperti menghisap raga itu. Pagi itu aku berjalan melewatinya, seringkali aku memang melemparkan pandangan masuk menyusuri 'lorong' bangunan itu saat melintasinya. Pemandangannya selalu sama kawan, tentang ke-putus asa-an, tidak pernah lebih baik. Ibu-ibu penghuni bangunan itu sering tampak duduk di depan pintu kamar mereka, tanpa melakukan apapun,tidak juga berbincang-bincang. Soal mengapa mereka sering melakukan ini aku juga tidak pasti,tapi dugaanku tentu soal ekonomi, saat bensin premium mengalami kenaikan dari Rp.4500/ltr menjadi Rp.6000/ltr beberapa waktu lalu kulihat makin banyak ibu-ibu yang duduk di depan pintu mereka, dan tentu saja pada intensitas yang makin tinggi juga. dan keadaan semakin ramai karena sepeda motor yang biasa dipakai para suami berdagang juga makin jarang meninggalkan bangunan itu. Tapi para suami tak pernah duduk di depan pintu, mungkin karena mereka juga ingin menunjukkan sikap optimis pada anggota keluarganya dengan tidak duduk termenung di depan pintu. Tapi pagi itu situasinya agak berbeda, kali ini yang duduk di depan pintu kamar adalah seorang pemuda. Pemuda itu -seperti penyewa kamar yang lain di bangunan itu- berasal dari suatu daerah di Jawa Barat, di daerah asalnya seorang pemuda memang diharapkan jadi perantau dan mapan sebelum kembali dan menetap di kampung halamannya. Pemuda yang tetap tinggal akan dianggap banci, tidak lelaki, perempuan juga bukan. Ia duduk dengan posisi seperti yang biasa dilakukan ibu-ibu di depan kamar mereka masing-masing, duduk bersender pada kusen pintu dengan salah satu tangan memegang kepala, dan tangan itu bersender pula pada salah satu lutut, posisi khas orang yang sedang dipenuhi pikiran yang berat, mungkin memberat-beratkan hidup. Pemuda itu hanya memandangi pintu kamar di seberang, pintu itu terbuat dari triplek yang mulai tercabik-cabik di beberapa bagian, dan dihiasi dengan poster promosi oli sepeda motor. Pemuda itu menatap kosong ke poster tadi, mungkin dia merasa kasihan pada kaleng oli dalam poster karena sekarang sudah banyak dipalsukan. Di negeri ini memang banyak hal sudah dipalsukan, ikan pun dipalsukan, daging ayam cincang juga sudah disubtitusi kardus cincang oleh penjaja makanan. Pagi itu ibu-ibu tidak tampak duduk di depan kamar, mungkin mereka memutuskan libur dulu dari aktifitas perlamunan karena pemerintah baru saja menurunkan harga bensin premium menjadi Rp.5000/ltr, sepeda motor mereka pun sudah beraksi lagi. Tempat itu tampak sedikit lega, namun tetap suram. Demi melihat suasana bangunan itu agak berbeda, aku memperlambat langkahku. Di depan bangunan itu, anak-anak kecil penghuninya bermain-main. Sebagian dari mereka adalah anak perempuan. Entahlah, sepertinya kata bermain-main itu terlalu mengerikan untuk menggambarkan situasi yang kulihat pagi itu. Anak-anak tadi -yang kebanyakan belum memasuki usia sekolah- tampak terbagi menjadi 2 kubu, satu kubu berada di sisi utara, dan satu di sisi selatan,dan setiap anak memegang batu sebesar genggaman orang dewasa. Bukan urusan perang dan batu yang membuatku terkejut. Dari pelajaran sejarah yang kudapat sejak SD hingga SMP, serta antropologi saat SMA, kusimpulkan bahwa perang dan batu memang hal primitif yang bersembunyi dalam pikiran setiap anak manusia. Aku menoleh pada pemuda tadi, aku berharap dia memperhatikan anak-anak ini, anak-anak tetangganya, bahkan mungkin salah satunya adalah adiknya, atau mungkin anaknya sendiri. Tapi dia tetap setia pada poster oli. Kulihat dua anak memegang batu yang lebih besar daripada anak-anak yang lain, seperti kotak tisu, hanya saja yang ini mematikan. Aku belum mau mengambil jarak yang terlalu dekat dengan anak-anak itu, aku khawatir kalau-kalau pemuda tadi adalah salah satu orang tua dari para bajingan kecil di depanku, aku tidak ingin menyerang harga diri orang tua dengan ikut mengatur –yang mungkin- anaknya. Dua anak itu pastilah ketua masing-masing kubu. Aku mengambil jarak yang cukup untuk mengingatkan mereka agar membuang batu yang mereka pegang , tapi tidak satupun dari mereka mengacuhkan aku. Ini pastilah situasi yang benar-benar gawat. Kawan, aku sering melerai kucing bertengkar di rumahku , dan para kucing itu -meskipun saat dalam situasi saling mengancam dengan geraman-geraman yang tidak jelas- tetap akan menggerakkan telinganya saat aku memanggil nama mereka, kucing-kucing itu memperhatikan. Tapi anak-anak manusia ini, mereka bahkan tidak melirik! dan telinga mereka tidak juga bergoyang. Kukeraskan suaraku, berharap pemuda tadi mendengar dan mengambil alih pekerjaan melerai anak-anak sialan ini, pemuda itu tidak bergerak. Daun telinganya juga tidak bergoyang. Mana mungkin dia tidak mendengar, kecuali dia tuli. Tapi aku tahu dia tidak tuli dan buta karena sering melihatnya di sekitar daerah itu. Layaknya pemimpin negara yang akan berperang, 2 anak yang memegang batu terbesar saling mengancam. Mungkin ini usaha menghindari perang paling maju yang mereka pahami, mereka belum mengerti ungkapan menyerah untuk menang, cukuplah ancaman dulu, yang takut akan pergi dan perang terhindarkan. Suasana makin genting, ancaman-ancaman berterbangan. "awas,kulempar kamu biar tau rasa!!!" kata Ketua Kubu Utara yang badannya lebih kecil dibanding teman sekubunya yang -meskipun badan mereka lebih besar- hanya berdiri di belakang Si Kecil, menanti perintah menyerang. aku menoleh lagi pada pemuda stress tadi, masih tidak bergerak, kurasa dia mulai membatu. Seorang ibu keluar dari kamar untuk memeriksa jemurannya, menoleh sebentar ke anak-anak yang sedang mengacungkan batunya masing-masing, lalu kembali masuk ke kamarnya seolah-olah tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Maka pasti ibu itu tidak hanya sedang cuti dari rutinitas duduk di depan pintu, tapi juga cuti penuh sebagai orang tua, sebagai istri pun. Mungkin dia juga sedang tidak masak dan mencuci untuk anak dan suaminya pada hari itu, sepertinya memang begitu, tampak jemurannya hanya pakaian wanita saja. "kamu itu yang curang, coba lempar kalau berani!" balas Ketua Kubu Selatan tak kalah gertak. Kuperhatikan tubuh anak yang satu ini penuh dengan goresan-goresan luka di tangan dan kakinya, mungkin karena dia sering melawan hal-hal yang dia anggap sebagai kecurangan dengan keras. Setelah banyak ancaman dan ejekan mereka lontarkan, tampaknya Si Kecil Dari Utara mulai takut, bibirnya makin manyun, mentalnya mulai goyah. Tapi, secara tiba-tiba, dari sayap kanan kubu utara sebuah batu melesat mengenai kepala si rambut keriting dari selatan, prajurit kelas bawah kubu utara melempar prajurit kelas bawah dari selatan. Rupanya si penyerang masih menyimpan hormat pada Si Kecil pimpinannya dengan tidak langsung menyasar Si Gores-Gores pimpinan kubu selatan, mungkin lebih tepat bukan karena hormat, tapi karena dia takut pada Si Gores-Gores. Adapun Si Keriting yang terkena lemparan, mungkin berkaitan dengan dendam pertikaian sebelumnya, entahlah. Si Keriting Tujuh Keliling langsung menangis. Sungguh, batu yang mengenai kepalanya itu bisa membuat kepalanya bocor, tapi dia cukup beruntung, meski tetap sial, kepalanya tidak berdarah. Si Pemuda tidak menoleh, kali ini aku harap batu tadi mengenai kepalanya. Melihat anggota kubunya tertembak, si gores-gores, yang sepertinya paham benar akan rules of engagement, tahu bahwa ini saatnya kubu mereka melawan. Ia langsung mengangkat batu besarnya di atas kepala, bersiap-siap melemparkannya ke Si Kecil. Aku langsung berlari mendekat untuk mencegahnya. Tapi terlambat, batu itu melesat…..tapi sudutnya sangat curam, dan jatuh hampir mengenai kaki si kecil. Ternyata batu itu masih terlalu berat juga untuk Si Gores-Gores. Selamatlah si kecil karena kesalahan Si Gores-Gores memilih batunya. Ukurannya memang mengintimidasi lawan, tapi tak mampu dijinakkan. "DIN DIN" klakson mobil yang mau lewat membuyarkan ketegangan mereka. Gang yang menjadi area perang tadi lebarnya memang pas dengan ukuran mobil tersebut, akhirnya mereka bubar begitu saja.Aku juga terpaksa menyingkir, setelah mobil berlalu para setan-setan kecil itu sudah berhamburan ke dalam kamar mereka masing-masing. Si Pemuda tadi masih termenung. Kuputuskan untuk pulang. Setelah melihat siaran berita di TV selama 2 hari, aku cukup yakin ibu-ibu itu tidak akan sampai 3 hari absen dari depan pintu mereka. Ternyata benar, hari ketiga mereka sudah duduk lagi di sana. Ternyata kali ini minyak tanah dan gas yang langka bin mahal biang keroknya. Si Pemuda sudah tidak tampak, mungkin dia sudah jadi lelaki di luar sana, mungkin juga jadi banci di kampung halamannya.

[+/-] Selengkapnya...

December 13, 2008

Pagi yang salah

"kri…ng! kRi..ng! krI…ng!" (suara alarm) mata belum lagi terbuka lebar, kutarik badanku turun dari kasur, dan berjalan sempoyongan menuju kamar mandi.

ya, Rabu pagi itu aku ada kuliah jam 7. alarm udah di-set, mental juga udah disiapin (maklum, kuliah pagi selau membuat perutku mual).

"byurR", guyuran air pertama di pagi hari selalu terasa seperti tamparan untuk lebih bangun lagi, setelah mandi dan sedikit bercermin, akhirnya siap untuk berangkat (pake baju lho, ga’ sekedar bercermin) tapi sial, kunci motorku lagi lucu"nya pagi itu, entah dimana dia (20% dari hariku kuhabiskan untuk mencari kunci motor setiap kali mau jalan, yang sialnya, kadang kunci itu ada ditanganku disaat aku mencarinya, hehehe) Setelah sedikit penyisiran (yang lebih mirip penjarahan Mei 1998) akhirnya kutemukan kuncinya.(huh..kunci memang selebar daun kelor!!!)

dengan niat ikhlas ingin menambah ilmu, berangkatlah dari rumah (rasanya mataku masih terasa sipit pagi itu, belum benar" bangun). lalu….."ah", teringat kucingku belum dikasih makan, tapi sudahlah, tak sempat lagi (Blowy, SOlo, maaf ya atas pagi itu, kalian pasti kecewa,hiks) dengan buru", beberapa kali hampir ‘ngobrol’ dengan body mobil dijalanan, akhirnya sampai juga di kampus biru tercinta

teman" sekelas ga’ keliatan lagi di parkiran (alamat telat nih). Buru" masuk kelas, hampir ketabrak cewek di pintu masuk,seneng c ngeliat ceweknya, tapi begitu ngeliat ke depan kelas "HAH?" Koq dosennya berkumis? bukannya hari ini dosennya bu Ambar?

ah,mencoba berpikir positif,mungkin ini kelas dengan dosen yang ganti"y (ada juga beberapa kelas yang seperti itu di Fisipol) liat",Koq isi kelasnya beda? Koq?koq?koq?..

masih berusaha berpikir positif, mungkin kelasnya di pindah ruangan, tapi......... KOq KOSONG??????

dengan sisa pulsa yang tersayang, nelpon teman sekelas nanya ruangnya dipindah kemana, tapi jawaban yang mengejutkan yang didapat.

"Kuliahnya khan hari Kamis Boss, jam 9.30"

huh…………………………………………………… kekacauan pagi yang memacu adrenalin itu berakhir mengejutkan, menggelikan dan konyol ( kalau bukan bodoh)

begitulah klo mau tau rasanya kuliah di 2 kampus, jadi lupa kapan ada waktu ga kuliah, rasanya begitu ga ada kuliah di kampus yang satu, pasti ada kuliah di kampus yang satunya lagi.

jadi baris ke-4tulisan ini kuubah saja :

ya, Rabu pagi itu aku ada kuliah jam 7,setidaknya saat itu kupikir begitu……………………

[+/-] Selengkapnya...